Wednesday, December 10, 2014

MEDIA CYBER

Media Siber  adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik,  serta memenuhi persyaratan Undang - Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers.  
Isi Buatan Pengguna (User Generated Content) adalah segala isi yang dibuat dan atau 
dipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang 
melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan 
bentuk lain.


Verifikasi dan keberimbangan berita

Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.

Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.

Ketentuan dalam butir di atas dikecualikan, dengan syarat :

- Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak.

- Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya,
kredibel dankompeten.

- Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau 
tidak dapat diwawancarai.

- Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masih 
memerlukan 

- verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya. 
Penjelasan dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, 
di dalam kurung dan menggunakan huruf miring

- Setelah memuat berita sesuai dengan butir, media wajib meneruskan upaya 
verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita 
pemutakhiran 
(update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.

- Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)

- Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan 
Pengguna yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999
tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, yang ditempatkan secaraterang dan jelas.

- Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan 
dan melakukan proses login terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua 
bentuk Isi Buatan Pengguna. 

Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.
- Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis 

bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:

- Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul,Tidak memuat isi yang mengandung 
prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), 
serta menganjurkan tindakan kekerasan;

- Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak 
merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.

- Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi Buatan 
Pengguna yang bertentangan dengan butir (c). Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir. Mekanisme 
tersebut harus disediakan di tempat yang dengan mudah dapat diakses pengguna.

- Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi 
Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir  sesegera mungkin 
secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima.

- Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir , dan tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi 
yang melanggar ketentuan pada butir

- Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan bila tidak 
mengambil tindakan koreksi setelah batas waktu sebagaimana tersebut pada butir.

Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab


  • Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.
  • Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi
    atau yang diberi hak jawab.
  • Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.
    Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:
  • Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media siber yang berada di bawah otoritas teknisnya.
  • Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh
    media siber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu.
  • Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan
    koreksi atas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat
    berita tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang
    tidak dikoreksinya itu.
  • Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).

Pencabutan Berita


  • Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak,
    pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang
    ditetapkan Dewan Pers.
  • Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut.
  • Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan kepada
    publik.

Iklan


  • Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.
  • Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib
    mencantumkan keterangan 'advertorial', 'iklan', 'ads', 'sponsored', atau kata lain yang menjelaskan bahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.

Hak Cipta


  • Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan
    perundang-undangan yang berlaku.
Pencantuman Pedoman


  • Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianya secara terang dan jelas.
Sengketa


  • Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media
    Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.


Daftar pustaka :

inside.kompas.com
dewanpers.or.id


Wednesday, October 15, 2014

KATULAMPA SIAGA EMPAT


MODELS

























STORY OF LOVE ( PREWEDDING )











BANJIR BENCANA ATAU BUDAYA ?

Katanya Ibu Kota bakalan menjadi water front city di kelak kemudian hari. Entah apa lagi ini, konkretnya, tapi yang pasti, ini adalah satu lagi konsep Pemprov DKI untuk menghindari bencana banjir, maka di wilayah pesisir Jakarta Utara perlu dibangun Waterfront City. Cita-cita ini bahkan telah tertuang dalam rencana tata ruang wilayah DKI Jakarta hingga 2030 nanti. 
Bagi rakyat jelata awam, entah bagaimana pemahaman mereka tentang water front city. Sebab, dan paling tidak, bagi sebagian warga kota Jakarta, water front city is just in front of them, alias kalau mau cari air yang terancam naik (water front), yang dapat membanjiri rumah, ini mah ada tepat di depan hidung rakyat, terutama rakyat yang tinggal di bantaran kali.
Karena Jakarta memang tidak pernah luput dari yang namanya banjir. Bagai hukum fisika, land scape piring Ibu Kota selalu dilanda banjir, dan banjir menjadi masalah yang sangat sulit dihilangkan di Ibu Kota. Di mana turun hujan, pasti jadi water middle city,  banjir dan genangan air pun datang.
Jakarta selalu terancam dilanda bencana banjir, baik 'kiriman' dari Bogor atau memang kesalahan masyarakat Jakarta sendiri yang gemar membuang sampah sembarangan, serta banyaknya rumah penduduk di pinggiran sungai yang mana dapat mengganggu resapan air, dan debit air yang datang. Sehingga banjir menyebabkan dampak kepada warga Jakarta, yang diantaranya :
· Kemungkinan inflasi meningkat
· Terjadinya kenaikan bahan pokok
· Menyebabkan penurunan kualitas kerja
· Dapat terjadi pemutusan hubungan kerja ( PHK )
· Merebaknya penyakit
· Menambah tingkat pengangguran
Kemungkinan hal ini sangat sulit diatasi apabila tidak adanya niat yang serius dan kerja sama antara warga Jakarta dan pemerintah setempat. Karena jika hanya mengandalkan tenaga dari pemerintah, hal ini tidak akan terselesaikan sampai kapan pun .
Banjir disebabkan oleh ulah tangan manusia yang melakukan hal-hal sebagai berikut :
· Meluapnya air sungai diakibatkan, rusaknya alam baik diperkotaan maupun pedesaan merupakan salah satu penyebabnya. Kurangnya perhatian masyarakat terhdap lingkungan, membuang sampang sembarangan, limbah di buang di sungai, dsb.
· Tanah serapan air berkurang, resapan air yang dulu ada sekarang mulai berkurang, karena banyaknya proyek-proyek yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan swasta yang tidak bijaksana,seperti mall,perumahan,perkantran,dan lainnya. 
· Kurangnya tanaman , diakibatkan pembangunan yang tidak bertanggung jaawab, seenaknya menebang pohon, tanpa ada penanaman ulang kembali.
Inilah bukti nyata dari keadaan yang terjadi,kurangnya kesadaran justru menghancurkan dan merugikan masyarakat itu sendiri, namun apabila masyarakat dapat lebih memperhatikan lingkungan mungkin banjir tidak akan sering terjadi. Namun itu semua terlambat, banjir sudah sering terjadi di Jakarta, salah satu jalan kita perlu menanggulanginya, dengan cara-cara sebagai berikut :
· Penjagaan area resapan air, pemerintah harus tegas melarang perusahaan swasta yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan, pembangunan-pembangunan gedung-gedung besar justru merugikan masyarakat. Pemerintah yang jujur harus memperhatikan masrakat, bukan malah tergiur oleh uang yang banyak. Tidak ada kata setuju pada perusahaan-perusahaan yang tidak memperhatikan AMDAL.
· Proyek pengerukan sungai, hal ini harus dilakukan demi menjaga kedalaman sungai. Sungai yang dangkal akibat pembuangan sampah yang sembarangan dapt menyebabkan banjir.
· Reboisasi hutan gundul, hutan yang gundul harus ditanam kembali, sehingga dapat mengurangi penyebab banjir. Namun hal itu hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan kepada lingkungan yang nyata, hanya segelincir orang saja yang melakukan reboisasi.
· Pembangunan giant sea wall, yang bertujuan menjadikan jakarta water front city. Giant sea wall berfungsi sebagai pelindung pantai utara Jakarta, dan juga dapat dijadikan waduk penyedia air bersih bagi warga Jakarta. 

Penanggulangan tersebu harus secepatnya dilaksanakan, agar banjir tidak selalu membayangi warga Jakarta, namun perlu adanya bantuan dari warga Jakarta juga, karena ini merupakan masalah bersama, bukan masalah pemerintah saja. Namun apa yang terjadi fenomena 'water front for real'  ini tidak membuat warga sekitar resah, karena kejadian ini sangat sering terjadi sehingga membuat warga yang tinggal di lingkungan sekitar tidak melakukan siaga. Inilah s egi positif keyakinan warga DKI. 
Namun biar bagaimanapun hal seperti ini harus secepatnya diatasi, karena dapat berdampak buruk bagi Ibu Kota ke depannya nanti.  Pastinya Jakarta membutuhkan beberapa cara untuk mencapai rencana tersebut.